Dilihat : kali
Daya Saing Indonesia 2026 Turun ke Peringkat 48 Dunia | DA-SHOP NEWS
Daya Saing Indonesia 2026 Turun ke Peringkat 48 Dunia, Tantangan Produktivitas, Infrastruktur, dan Efisiensi Bisnis Jadi Sorotan
Posisi daya saing Indonesia di tingkat global mengalami tekanan pada 2026. Berdasarkan laporan terbaru IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026, Indonesia berada di peringkat 48 dunia.
Peringkat ini merupakan hasil penilaian terhadap kemampuan suatu negara dalam menciptakan lingkungan ekonomi yang kompetitif, menarik investasi, meningkatkan produktivitas, serta mendukung perkembangan dunia usaha.
Empat Indikator Daya Saing
- Economic Performance (Kinerja Ekonomi)
- Government Efficiency (Efisiensi Pemerintah)
- Business Efficiency (Efisiensi Bisnis)
- Infrastructure (Infrastruktur)
Keempat indikator tersebut menggambarkan seberapa kuat sebuah negara dalam mengelola ekonomi, menciptakan peluang usaha, dan bersaing dalam pasar global.
Indonesia Tertinggal dari Sejumlah Negara Asia
Indonesia yang sempat berada di posisi 27 dunia pada 2024, turun menjadi 40 dunia pada 2025, dan kembali melemah ke posisi 48 dunia pada 2026.
China naik ke posisi ke-12 dunia dan Malaysia naik ke posisi ke-15 dunia. Kondisi ini menunjukkan persaingan ekonomi Asia semakin ketat.
Apa Arti Daya Saing Indonesia?
Daya saing bukan berarti mengukur apakah manusia Indonesia pintar atau tidak, maupun menyatakan semua perusahaan Indonesia memiliki kinerja buruk.
Daya saing mengukur kemampuan seluruh ekosistem ekonomi sebuah negara dalam menghasilkan produk, layanan, dan nilai ekonomi yang mampu bersaing dengan negara lain.
Produktivitas Manusia dan Mesin
Produktivitas berarti seberapa besar hasil yang dapat dihasilkan dari tenaga kerja, mesin, teknologi, modal, dan waktu.
- Penggunaan teknologi belum merata
- Keterampilan tenaga kerja perlu ditingkatkan
- Investasi mesin dan otomatisasi belum maksimal
- Proses produksi masih perlu dibuat lebih efisien
Tantangan Inovasi dan Teknologi
Indonesia memiliki perkembangan di sektor digital, UMKM, dan industri kreatif. Namun tantangannya adalah bagaimana inovasi berkembang menjadi kekuatan industri global.
Efisiensi Bisnis Mengalami Penurunan
Indikator Business Efficiency Indonesia turun dari posisi:
- 14 dunia pada 2024
- 26 dunia pada 2025
- 50 dunia pada 2026
Hal ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam produktivitas, manajemen bisnis, pemanfaatan teknologi, dan ekspansi global.
Biaya Usaha dan Kecepatan Bisnis Indonesia
Biaya usaha dipengaruhi oleh:
- logistik
- energi
- perizinan
- waktu administrasi
- akses teknologi
- konektivitas wilayah
Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan distribusi barang dan konektivitas antarwilayah.
Investor Memiliki Banyak Pilihan
Turunnya daya saing tidak berarti seluruh investor meninggalkan Indonesia.
Namun investor global mempertimbangkan:
- Kepastian hukum
- Kemudahan perizinan
- Biaya produksi
- Kualitas tenaga kerja
- Infrastruktur
- Stabilitas kebijakan
Efisiensi Pemerintah
Government Efficiency Indonesia berada pada:
- 23 dunia pada 2024
- 34 dunia pada 2025
- 38 dunia pada 2026
Infrastruktur Masih Menjadi Tantangan
Indonesia berada di peringkat 58 dunia untuk indikator Infrastruktur.
Masih ada wilayah yang membutuhkan peningkatan:
- jalan
- transportasi
- internet
- listrik
- pendidikan
- layanan ekonomi
Kinerja Ekonomi Tetap Menjadi Kekuatan
Pada indikator Economic Performance, Indonesia berada di posisi 24 dunia.
Pandangan DA-SHOP NEWS
Penurunan peringkat daya saing Indonesia menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi harus diikuti peningkatan produktivitas, inovasi, efisiensi bisnis, dan kualitas infrastruktur.
Indonesia memiliki potensi besar. Tantangannya adalah mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan industri yang mampu bersaing secara global.
Negara yang mampu bergerak cepat, bekerja efisien, dan menciptakan lingkungan bisnis yang baik akan lebih kuat dalam persaingan ekonomi dunia.
Pertanyaan Umum
Apa arti daya saing Indonesia turun ke peringkat 48 dunia?
Artinya kemampuan ekosistem ekonomi Indonesia dibanding negara lain mengalami tekanan berdasarkan indikator ekonomi, government, bisnis, dan infrastruktur.
Apakah berarti pekerja Indonesia tidak produktif?
Tidak. Penilaian mencakup teknologi, sistem kerja, investasi mesin, pendidikan, dan lingkungan ekonomi secara keseluruhan.
Apakah investor meninggalkan Indonesia?
Tidak seluruhnya. Namun investor dapat memilih negara lain jika melihat faktor biaya, efisiensi, regulasi, dan infrastruktur lebih kompetitif.